SELAYANG PANDANG PONPES ANAK – ANAK CABE RAWIT.
Ponpes Anak – Anak Cabe Rawit “NURSALAM” berdiri menjelang liburan akhir tahun pelajaran 1997 – 1998. Gagasan pertama kali di sampaikan oleh Bapak H. Mambakuddin, putra sulung dari Bp. KH. NURSALAM ( salah satu Ulama’ Blitar yang namanya dikenang sebagai nama Pondok ) dan kebetulan beliau juga sebagai Kepala Sekolah di SDN Dandong 2, tempat dimana anak – anak pondok usia SD dititipkan pembinaan Pendidikan Formalnya. Pada waktu musyawarah pengurus desa Blitar Barat beliau mengusulkan pentingnya pembinaan Generasi Penerus sejak dini. Adapun yang melatar belakangi usulan beliau :
- Menyikapi nasehat bapak Pengurus tentang Pembinaan Generasi Penerus mulai usia Cabe Rawit.
- Mengingat keadaan Zaman yang semakin lama moral nya manusia semakin rusak, sehingga perlu adanya usaha untuk menyelamatkan generasi penerus.
- Karena tuntutan keadaan dan kesibukan, banyak orang tua yang mengeluh tidak sempat mendidik putra – putrinya.
Dengan latar belakang itulah usulan beliau mendapat respon positif dari segenap peserta musyawarah pengurus Desa dan ditindak lanjuti pada forum musyawarah Daerah Blitar, yang ternyata semua juga mendukung segera diadakannya usaha pembinaan Generasi Penerus, utamanya usia SD.
Akhirnya dengan bekal seadanya, dirintislah Pondok Pesantren Anak – Anak yang pada waktu itu masih merupakan satu – satunya tempat pembinaan / peramutan Generasi Penerus Usia SD di Wilayah Blitar. Hanya berbekal tekad yang kuat, kerjasama yang solid dari segenap pengurus dan tentunya harapan pertolongan dari Allah lah yang mendorong perintisan tempat pembinaan Generasi Penerus ini.
Pada awal berdirinya Pondok, sebagai uji coba pembinaan, siswa – siswi pondok sedikitnya ada 60 anak usia SD mulai kelas satu sampai kelas lima. Dan mereka berasal dari wilayah Blitar saja. Lambat tapi pasti, perjalanan pondok sebagai tempat alternatif untuk pembinaan anak mulai didengar oleh warga sekitar Blitar. Sehingga siswa – siswi pondok tidak hanya dari wilayah Blitar saja tetapi tidak sedikit yang datang dari luar daerah bahkan.ada yang datang dari luar Jawa..
Adapun fasilitas yang ada saat itu hanyalah bangunan masjid dua lantai, tiga kamar mandi/wc, satu ruang dapur dan satu ruang kantor. Siswanya tidur di masjid, sementara siswinya dititipkan dirumah warga sekitar komplek Pondok. Suatu pemandangan yang sangat memprihatinkan tatkala malam hari siswa pondok tidur dimasjid berjejer – jejer dan hanya beralaskan karpet. Mandi antre, makan antre, ambil jatah sangu juga antre. Semuanya serba sangat terbatas. Tapi itulah pendidikan dan gemblengan.
Dengan kesabaran, keuletan dan kerjasama yang baik dari segenap pengurus pondok, sedikit demi sedikit mulai ada pembangunan, pembenahan dan penataan sarana prasarana pondok. Kamar mandi/wc ada penambahan, kamar tidur siswa – siswi mulai dibangun walaupun masih sangat sederhana sekali.
Tunggu posting berikutnya yaa.....?! Masih ada lanjutannya lho...






0 komentar:
Posting Komentar